Kebutuhan gula nasional yang saat ini mencapai 3,4 juta ton per tahun tidak akan pernah terpenuhi tanpa ada pembangunan pabrik gula (PG) baru, karena PG yang ada sekarang sudah tidak mampu lagi. Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Adig Suwandi ketika dihubungi ANTARA melalui telpon di Surabaya, Jumat, terkait kondisi pergulaan di dalam negeri. "Kalangan pergulaan menilai pembangunan PG baru sudah sangat mendesak, karena kebutuhan gula baik untuk konsumsi langsung maupun bahan baku industri makanan minuman akan terus mengalami kenaikan dalam tiga sampai lima tahun kedepan," katanya. Saat ini, kebutuhan gula nasional mencapai 3,4 juta ton per tahun, terdiri dari 2,5 juta ton gula untuk konsumsi langsung (white sugar), 700 ribu ton gula rafinasi bahan baku industri mamin dan 300 ribu ton gula bahan baku pabrik monosodium glutamat dan fabrikan lain. Produksi gula nasional yang dihasilkan 58 PG di seluruh Indonesia baru sekitar 2,9 juta ton (dua juta ton PG di Jawa dan 900 ribu ton PG di luar Jawa), sehingga pemerintah harus melakukan impor untuk menutupi kekurangannya. "Khusus untuk kebutuhan white sugar (gula konsumsi langsung), pada tahun 2008 nanti diperkirakan meningkat mencapai 3,5 juta per tahun. Karena itu, PG yang ada sekarang sudah tidak mampu menutupi kebutuhan tersebut," kata Adig. Mengatasi masalah tersebut, tidak ada jalan lain kecuali membangun PG baru atau pemerintah terus-menerus menggantungkan impor gula dari negara lain. Menurut Adig, dengan kekurangan sekitar 600 ribu ton gula untuk kebutuhan white sugar tahun 2008, setidaknya diperlukan tambahan empat PG baru dengan kapasitas minimum 8.000 ton tebu dan menghasilkan gula 150 ribu ton per tahun. Untuk pembangunan satu PG baru diperlukan areal sekitar 20.000-25.000 hektare, baik untuk infrastruktur fisik, pabrik, kantor dan perkebunan. Investasi yang diperlukan sekitar 120 juta-200 juta dolar AS. Adig Suwandi menyebutkan beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara dan Papua sangat memungkinkan untuk pembangunan PG baru. "Yang sudah ditawarkan pemerintah daerahnya adalah lokasi di Kabupaten Merauke, Papua. Malah untuk di Merauke sudah ada studi kelayakan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Papua," tambahnya. Dilokasi tersebut tersedia lahan yang relatif datar dan sesuai dengan agroekosistem perkebunan tebu seluas 1,6 juta hektar. Mengingat besarnya investasi proyek tersebut, sementara "return on investment" proyek-proyek agroindustri umumnya berlangsung cukup lama, lanjut Adig, maka diperlukan berbagai insentif dan kemudahan agar para calon investor menjadi lebih tertarik. Insentif dan kemudahaan itu diantaranya ketersediaan lahan yang relatif bebas masalah atau okupasi pihak lain, keamanan berusaha, dan keringanan pajak. Selain itu, penyediaan infrastruktur pendukung, mulai pelabuhan, jalan, jembatan, telekomunikasi, dan lain-lain.