Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Merauke Drs Ricky Teurupun, yang juga Pimpro pengadaan tiga pesawat milik Pemkab Merauke Twin Otter Musamus, Boeing 737 Seri 300 KLI dan AOBA, menegaskan pengadaan tiga unit pesawat tersebut dilakukan melalui suatu proses cukup panjang. Dimana, Pemkab Merauke hanya menginvestasikan dananya ke PT Merpati untuk membeli pesawat. Karena itu yang membeli pesawat adalah PT Merpati.
"Jadi Pemda tidak pernah sebagai pelaku pembeli pesawat. Itu diingat baik-baik," kata Ricky Teurupun, usai menghadiri Peringatan Hari Perhubungan Rabu (17/9/2008). Karena itu, kata dia, yang melakukan negosiasi dengan owner adalah PT Merpati karena dia adalah perusahaan penerbangan. Alasan PT Merpati membeli pesawat tersebut karena Pemda sendiri tidak memiliki perusahaan penerbangan. Di lain pihak, Pemda juga tidak memiliki manajemen dan orang-orang sehingga dilakukan sharing investasi yakni Pemda menginvestasi dan Merpati membeli dan mengelolanya dengan manajemen yang dimilikinya melalui Kerja Sama Operasional (KSO).
Menyangkut untung ruginya, menurut Ricky Teurupun, dapat dibuktikan baik secara keuangan maupun secara pelayanan. Pertama, secara keuangan. Berdasarkan analiasasi ekonomi, lanjut dia, menunjukan break event point khusus untuk pesawat Kli dicapai setelah 3 tahun 6 bulan. "Dengan investasi sebesar itu dan break event point 3,5 tahu apa itu tidak fleksibel. Itu sangat fleksibel," katanya. Sehingga pendapatan selanjutnya setiap bulannya setelah 3 tahun 6 bulan merupakan keuntungan. Dikatakan, dari analisis ekonomi, setiap bulan Pemda memperoleh pendapatan Rp 1,3 miliar, ternyata dalam kenyatan yang diterima lebih besar yakni antara Rp 1,5-2 miliar. Untuk analisasi ekonomi ini, jelas Ricky, harus disetujui Menteri BUMN. Sedangkan untuk sampai ke Menteri, harus mellaui 7 Deputi untuk dianalisis layak atau tidak. "Kalau itu sudah disetujui 7 Deputi barulah Menteri tandatangani layak atau tidak," jelasnya.
Sementara itu dari sisi pelayanan masyarakat, 75 persen masyarakat Merauke yang naik pesawat itu adalah subsidi Pemda. "Itu ingat baik-baik. Jadi betapa besar masyarakat manfaatkan dengan adanya penerbangan ini. Jadi tidak hanya sekedar subsidi silang. Misalnya, Merpati membayar ke kita dari hasil pendapatannya. Uang itu kita pakai bayar kembali ke Merpati untuk subsidi masyarakat," katanya. Sehingga manfaaat yang diterima, selain transportasi lancar, masyarakat menikmati dan pemerintahan lancar. Apalagi lanjut dia, dengan terbatasnya di Indonesia. Jika Pemda tidak memiliki 2 pesawat Kli dan AOB itu akan mengalami pelayanan pemerintahan kepada masyarakat.
Selain melayani masyarakat Merauke, sambungnya, kedua pesawat itu saat ini melayani seluruh Papua. Mulai Jayapura, Biak, Mimika dan Manokwari dan Sorong.
Disinggung kemungkinan masih kurangnya sosialisasi, Ricky mengaku bukan karena sosialisasi yang kurang tapi sebenarnya orang-orang seperti itu bukan orang yang bodoh tapi mampu menganalisis. "Tapi sekarang kacamata yang digunakan dari sudut mana. Apakah dengan rasio atau ada muatan-muatan lain. Kita tidak tahu. Tapi saya yakin bahwa orang-orang itu mampu melihat sesuatu itu secara rasio," terangnya.