Latihan SAR antara Indonesia dan negara Australia akan digelar hari ini, Rabu (19/11) di sekitar Laut Arafura yang merupakan perbatasan laut antara Australia dan Indonesia yang ada di Kabupaten Merauke.
Latihan SAR ini, selain melibatkan petugas SAR dari Kantor SAR Merauke, Kepolisian, Lanal, Lanud dan TNI AD, juga langsung melibatkan petugas SAR dari Australia.
Namun sebelum latihan bersama selama 2 hari di Laut Arafura tersebut, para petugas dari berbagai satuan dan instansi yang akan terjun dalam latihan ini diberikan teori-teori tentang penyelamatan, kemarin.
Kepala Pusat Bina Operasional Basarnas Laksma TNI Bambang Riswanto, saat membuka kegiatan itu mengatakan, latihan antara Kantor SAR Merauke dengan RCC Australia uini merupakan implementasi dari program kerja sama antara Indonesiaan Transport Safety Assistance Package (ITSAP) yang ditandatangi oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia pada bulan Januari 2008.
Dari kerja sama itu, Badan SAR Nasional memperoleh 5 paket bantuan. Salah satun diantaranya adalah Pelatihan SAR Mission Coordinator (SMC) yang telah dilaksanakan di Denpasar, Bali beberapa waktu lalu.
‘’Hasil dari pelatihan itu akan kami terapkan sdalam latihan ini sehingga pengetahuan dan keterampilan SAR yang diperoleh dapat langsung diaplikasikan di lapangan,’’ kata Laksma Bambang Riswanto.
Apapun alasan dipilihnya Merauke sebagai tempat latihan dengan RCC Australia itu, karena wilayah Merauke berbatasan langsung dengan Australia dan PNG. Dengan kondisi geografis demikian, maka lalu lintas penerbangan domestik dan pelayaran internasional maupun domestic di wilayah Merauke cukup padat yang berpotensi terjadinya kecelakaan yang cukup besar.
‘’Mengantisipasi hal-hal tersebut, Badan SAR Nasional dan RRC Australia memandang penting untuk mengadakan latihan SAR bersama di daerah ini guna mewujudkan wilayah yang aman di perbatasan kedua Negara,’’ jelas Laksma Bambang Risyanto.
Sementara itu, Bupati Merauke Drs Johanes Gluba Gebze menilai, banyak kejadian musibah yang terjadi di Merauke yang seperti tenggelamnya Bimas Raya II dan KM Digoel yang merengut ratusan jiwa. Selain karena terbatasanya sarana prasarana yang dimiliki juga karena menyangkut SDM.
‘’Sehingga pelatihan seperti ini memiliki peran strategis dalam penanganan bencana kedepan,’’ jelasnya.
sumber:
www.cenderawasihpos.com