MERAUKE.MOBI
0-Home | Berita Ekonomi | Harga CPO Terjun Bebas
Minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di bursa Malaysia untuk kedua kalinya , turun ke level terendah dalam 17 bulan terakhir. Ini terjadi akibat pelemahan harga minyak yang kini bergerak pada kisaran US$ 92 per barel. Dalam perdagangan Selasa (16/9/2008), harga CPO untuk pengiriman November di Malaysia Derivatives Exchange merosot 6,7% menjadi RM2.090 atau setara dengan US$605 per ton. Itu level terendah sejak April 2007. Kontrak CPO pada perdagangan siang hari di bursa Malaysia bertahan pada kisaran RM2.095 per ton, kurang dari separuh rekor harga yang dicapai pada Maret sebesar RM4.486 per ton. 

Penurunan harga CPO saat ini dipicu harga minyak mentah yang menurun drastis. Selain itu, ada sentimen negatif dari pasar komoditas beberapa pekan sebelumnya yang menekan harga CPO. Namun, beberapa negara masih membutuhkan komoditas ini untuk menutup kebutuhan dalam negerinya. 

Berdasarkan data Kantor Kepabeanan China, negara konsumen terbesar minyak nabati itu mengimpor 360.000 ton CPO pada bulan lalu. Selain itu, perusahaan terbesar kedua milik pemerintah India, State Trading Corp, mengajukan penawaran impor sebanyak 12.000 ton CPO. 

Minyak nabati, biasanya berasal dari CPO, jagung, kedelai yang biasa diproses menjadi minyak goreng dan bahan bakar alternatif sering terpengaruh kinerja harga minyak. Saat ini, harga minyak terus melemah akibat perlambatan perekonomian dunia yang memangkas permintaan produk energi. Krisis finansial AS juga membuat investor kebingungan karena kontrak komoditas dan saham turun tajam. Dolar AS semakin terdepresiasi terhadap euro dan mata uang kuat lainnya, apalagi beredar spekulasi The Fed masih akan menahan suku bunganya. Dolar AS melemah menjadi US$ 1,418 per euro. Perkembangan perekonomian itu menjadikan minyak mentah turun dalam dua hari terakhir dan mencapai posisi terendahnya US$ 91 per barel dalam tujuh bulan terakhir berdasarkan keterangan resmi New York Merchantile Exchange. “(Penurunan harga) ini imbas dari masalah permintaan. Deflasi adalah risiko terbesar saat ini bagi perekonomian dunia dan secara langsung mempengaruhi kebutuhan pada komoditas, termasuk CPO,” kata James Gruber, analis CLSA Asia Pasific Market.

 Kekhawatiran kekurangan pasokan minyak mulai kendur setelah sejumlah perusahaan minyak terbesar dunia yang memiliki anjungan kilang minyak lepas pantai di Teluk Meksiko menyatakan kemungkinan akan mengoperasikan fasilitas produksinya setelah badai Ike tidak merusak infratsruktur.
0-Home | Berita Ekonomi | Harga CPO Terjun Bebas